MENGAPA WAPRES JUSUF KALLA MEMBELA PSSI?

PSSI Wapres Menpora jpeg Aneh memang, jika Wakil Presiden Jusuf Kalla bukannya membela “anak buahnya” Menpora Imam Nahrawi, tapi malah membela PSSI. Ada apa? Hal ini terlihat ketika Wapres Jusuf Kalla memanggil dan meminta Menpora Imam Nahrawi mencabut SK nomor 01307 tertanggal 17 April 2015 yaitu Sanksi Administratif terhadap PSSI atau populer disebut SK Pembekuan PSSI, pada Senin (25/5/2015) lalu.

Anehnya lagi, saat memanggil Menpora Imam Nahrawi di Istana Wakil Presiden, hadir pula, di samping Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Panjaitan, para pembela PSSI lainnya, seperti Ketua Komite Olimpiade Indonesia Rita Subowo dan juga mantan Ketua Umum PSSI Agum Gumelar, sementara Menpora menghadapinya sendiri saja.

Usai pertemuan itu, Wapres Jusuf Kalla mengatakan pencabutan SK Pembekuan PSSI itu demi penyelamatan sepak bola nasonal. “Sepak bola nasional harus tetap jalan dengan baik, tetap kompetisi dengan baik. Tentu karena itulah maka PSSI harus aktif lagi,” ujar Wapres Jusuf Kalla.

Akan tetapi, setelah itu, Menpora Imam Nahrawi menemui Presiden Joko Widodo. Dan, ternyata, Presiden Jokowi tetap mendukung putusan “anak buahnya” Menpora Imam Nahrowi. Sikap Presiden bertentangan dengan Wakil Presiden.

Melihat sikap Wapres Jusuf Kalla yang membela PSSI, tentu memunculkan tanda tanya. Bisa jadi, ada kepentingan lain di luar kepeduliannya terhadap persepakbolaan nasional. Sebagaimana yang telah banyak diberitakan, bahwa sikap Wapres Jusuf Kalla itu, agaknya demi membela Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla, yang merupakan CEO Bosowa Grup, di mana PT Bosowa Capital terdaftar sebagai pemegang saham di PT Bank QNB Indonesia, Tbk (dulunya Bank QNB Kesawan dan Bank Kesawan) yang notabene adalah sponsor ISL (Indonesia Super League) atau Liga Super Indonesia 2015.

Mengapa Bank QNB Indonesia (Bank QNB Kesawan) mau mensponsori ISL? Kabarnya, hal itu untuk mengangkat kembali brand QNB Kesawan. Maklum, seperti yang sudah diberitakan, berdasarkan data yang diolah Biro Riset Infobank per September 2013, menunjukkan Bank QNB Kesawan mencatat kerugian sebesar Rp36,02 miliar atau termasuk salah satu dari tiga bank yang tak mampu mencatat pertumbuhan laba di antara ratusan bank yang beroperasi di Indonesia. Yang dikhawatirkan, jika hal itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin Qatar National Bank (QNB) akan melepas saham mayoritasnya di Bank Kesawan.

Jika dilihat dari data PT Bank QNB Indonesia Tbk Shareholding Composition per September 31, 2014 bahwa kepemilikan saham pada QNB Kesawan ini masing-masing Qatar National Bank memiliki saham sebesar 78,59%, PT. Basowa Kapital 12,23%, sementara saham yang dimiliki publik hanya sebesar 9,18%.

Kerugian yang dialami Bank QNB Kesawan tentu semakin bertambah manakala dana sponsorship sudah terlanjur digulirkan ke PT Liga Indonesia (operator ISL), sementara kompetisi ISL tidak berlanjut. Padahal, Menpora Imam Nahrawi sudah meminta ISL tetap dijalankan di bawah supervisi tim transisi. Hanya saja, petinggi PT Liga Indonesia tetap ngotot mau melanjutkan kompetisi asalkan di bawah PSSI.

Andai saja, Wapres Jusuf Kalla mau bijak, tentu bukannya mendesak Menpora Imam Nahrawi yang notabene anak buahnya sendiri untuk mencabut SK Pembekuan PSSI, melainkan justru memanggil pihak PT Liga Indonesia untuk menurut pada pemerintah, dengan tetap menjalankan kompetisi ISL di bawah supervisi tim transisi, demi tata kelola sepak bola yang lebih baik.

Jika ada alasan khawatir sanksi FIFA, apabila kompetisi ISL dijalankan bukan di bawah PSSI, tentu kita harus berkaca dengan yang terjadi di Australia pada tahun 2002 (baca: ANCAMAN SANKSI FIFA, ALAT PSSI MEMBODOHI RAKYAT (TERMASUK DPR). Saat itu, kompetisi A-League berjalan di bawah tim transisi bentukan Menpora Australia setelah Soccer Australia atau PSSI-nya Australia dibekukan pemerintah. Dan, nyatanya, Australia tidak dikenakan sanksi FIFA.

Comments

comments