PEMBERI SANKSI PSSI DALAM PENYELIDIKAN KASUS SUAP

by -378 views

jerome bletter Pemberi sanki PSSI, Sekjen FIFA Jerome Valcke, tampaknya sedang dirundung masalah. Pasalnya, para penyelidik federal Amerika Serikat meyakini Jerome Valcke terlibat dalam transaksi bank senilai 10 juta dolar AS terkait tindak pidana penyuapan.

Media Amerika Serikat, New York Times, melaporkan bahwa pembantu terdekat Presiden FIFA Sepp Blatter itu adalah sosok yang digambarkan dalam surat dakwaan pengadilan federal Brooklyn, New York, sebagai seorang “petinggi FIFA” yang tidak disebutkan identitasnya yang pada 2008 mengirimkan uang sebesar 10 juta dolar AS kepada pejabat FIFA, Jack Warner.

Sekalipun demikian, Sekjen FIFA itu tidak menjadi tersangka dan tidak dituduh melakukan pelanggaran. Akan tetapi, seperti dilaporkan New York Times, Valcke dalam penyelidikan lebih mendalam, yang mungkin bisa membawa kasus mengarah kepada Blatter.

Sementara itu, kepada New York Times, Valcke melalui email menyatakan dia tidak berwenang dalam soal keuangan dan dan tidak pula memiliki kekuasaan untuk melakukan hal itu.

Padahal, dalam ketentuan FIFA disebutkan bahwa Sekretaris Jenderal FIFA bertanggung jawab mengelola rekening organisasi dan berwenang melakukan transaksi keuangan.

Di sisi lain, Danny Jordaan, Kepala Eksekutif tender Piala Dunia Afrika Selatan yang kini menjabat Presiden Federasi Sepak bola Afrika Selatan, mengakui memberikan uang 10 juta dolar AS kepada FIFA, namun uang itu bukan suap melainkan pembayaran untuk pengembangan sepak bola di Karibia.

Mengutip juru bicara FIFA Delia Fischer, New York Times mewartakan bahwa kepala komite keuangan FIFA Julio Grondona yang berwenang dalam soal bayar membayar, telah meninggal dunia setahun lalu. Fischer menegaskan bahwa pembayaran yang diduga uang suap itu “telah sesuasi dengan Ketentuan Organisasi.”

Sekjen FIFA yang juga merupakan “langganan” PSSI, lantaran paling sering berkomentar soal situasi PSSI, ini sebelumnya pernah terlibat dalam kontroversi masalah keuangan. Valcke yang berasal dari Perancis bergabung dengan FIFA pada 2003 sebagai direktur pemasaran, namun dipecat pada Desember 2006 setelah hakim pengadilan New York memutuskan dia dan beberapa orang lainnya berulang kali berbohong kepada MasterCard dan Visa mengenai kesepakatan sponsorhip.

Saat itu, FIFA membelanya dan menegaskan kasus yang melibatkan Valcke tidak bisa menjadi kesimpulan bahwa negosiasi-negosiasi bisnis yang dilakukan FIFA telah melanggar prinsip-prinsip bisnis.

Mahkamah banding lalu membatalkan keputusan hakim New York pada Mei 2007. Sebulan berikutnya, beberapa hari setelah FIFA membuat kesepakatan dengan MasterCard, Blatter memilih Valcke sebagai Sekretaris Jenderal yang merupakan posisi nomor 2 terpenting di FIFA dan Valcke pun tak pernah didakwa melakukan pelanggaran karena kasus itu.

Akibat dari pemberitaan New York Times itu, Valcke terpaksa membatalkan kunjungannya ke Kanada untuk pembukaan Piala Dunia Wanita, 6 Juni – 6 Juli 2015, dikarenakan adanya investigasi lebih lanjut dalam masalah korupsi sepakbola di FIFA.

Valcke sang “Langganan” PSSI

Menjadi menarik melihat kasus Valcke ini. Betapa tidak. Valcke yang mulai terindikasi kasus penyuapan dan sedang merosot kredibilitasnya ini adalah orang yang menandatangani dan menjatuhkan sanksi kepada PSSI (Indonesia). Yang menjadi pertanyaan, apakah mungkin Valcke yang dekat dengan pengurus PSSI ini mau menjatuhkan sanksi kepada PSSI yang notabene pengurusnya adalah “teman-temannya” sendiri.

Karena itu, tak salah jika sejumlah pihak mencurigai dugaan adanya rekayasa dalam penjatuhan sanksi FIFA kepada PSSI, dalam arti bukan tidak mungkin sanksi itu dijatuhkan merupakan dorongan dari pengurus PSSI sendiri. Karena, setidaknya, bagi mereka (PSSI) lebih baik kalah jadi arang, menang jadi abu.

Dengan adanya sanksi FIFA, setidaknya pengurus PSSI berharap masyarakat akan menyalahkan dan menghujat Menpora karena telah melakukan pembekuan PSSI sebagai bentuk intervensi pemerintah yang diharamkan oleh FIFA.

Teringat, 3 tahun lalu, ketika Lanyala Mattaliti menjadi Ketua KPSI saat terjadi dualisme antara PSSI vs KPSI. Saat itu, Lanyala dengan tegas menyatakan, “Lebih baik disanksi FIFA daripada harus tunduk dengan PSSI.” Maka, jika dianalogikan pendapatnya itu di masa kini, alhasil menjadi, “lebih baik disanksi FIFA daripada harus tunduk dengan tim transisi dan Menpora.” Wallahu a’lam bish-shawabi.

Comments

comments