PENGCAB PSSI JAKSEL: LAKUKAN TEROBOSAN GELAR KOMPETISI USIA DINI

Aji R M jpegKompetisi antar SSB (Sekolah Sepak Bola) yang teratur, merupakan salah satu kunci pembinaan usia dini. Karena hanya melalui kompetisi yang teratur itulah, skill, teknik, dan visi bermain serta mental pemain diuji dan diasah.

“Berangkat dari pemahaman itulah, Pengcab PSSI Jakarta Selatan selalu konsern dan konsisten menggelar turnamen usia 10, 12 dan 15 tahun, agar para pemain usia dini itu bisa terasah, tidak saja kemampuan skil dan tekniknya tetapi juga mental bertandingnya atau sportivitasnya,” jelas Aji Ridwan Mas, Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Jakarta Selatan.

Menurutnya, di era kepengurusannya ini, Pengcab PSSI Jaksel telah bertekad dalam setahun minimal menggelar tiga kali turnamen atau festival Sepak Bola Usia Dini, dari U 8, U 10 dan U 12. “Sedangkan untuk U 15, kita gelar setengah kompetisi yang diikuti para anggota Pengcab PSSI Jaksel, dengan masa roda kompetisi sekitar 4 bulan lamanya,” jelas mantan kapten timnas PSSI Garuda I era tahun 80-an ini.

Aji Ridwan Mas menyadari masalah biaya penyelenggaraan festival dan kompetisi itu menjadi salah satu kendala, terlebih lagi semua biaya dilakukan secara swadaya. Namun begitu, masalah biaya ini berusaha dicarikan solusinya. Misalnya, untuk kompetisi U 15, setiap tim yang bertanding hanya dikenakan biaya Rp 150 ribu per tim untuk sekali bertanding. Dengan cara ini tentunya tidak memberatkan peserta kompetisi.

“Biaya memang menjadi masalah, tetapi itu bukan berarti kita tidak dapat berbuat sesuatu. Yang penting bagi kami, roda kompetisi harus bisa terus berputar,” kata pengurus pusat PSSI bidang Komisi Disiplin (Komdis) ini, sembari menambahkan Pengcab PSSI Jaksel akan tetap konsern dan konsisten menggelar kompetisi penuh U 15 antar SSB khusus anggota PSSI Pengcab Jaksel setiap tahunnya.

Meski begitu, persoalan terbesar di SSB adalah ketika pemain menginjak usia 13 tahun ke atas, karena pada umumnya mereka kehabisan pemain. Hal ini disebabkan, salah satunya, minimnya turnamen U 14 atau U 15. Alhasil, mereka jadi enggan berlatih.

Jarangnya turnamen di U 14 itu dipengaruhi faktor lapangan, mengingat di usia 13 tahun ke atas mereka sudah main satu lapangan penuh, sehingga SSB rada enggan menyelenggarakannya karena mahalnya biaya sewa lapangan.Hal ini berbeda dengan U 12, U 10 dan U 8, di mana ada banyak SSB yang menggelar turnamen atau populer disebut Festival, karena satu lapangan bisa dibagi menjadi empat untuk memainkan pertandingan U 10, sedangkan U 12 main setengah lapangan. Dengan demikian, biaya sewa lapangan bisa tertutupi dari biaya pendaftaran peserta.

Sekalipun begitu, Aji memiliki terobosan. Ia pun akan mencoba menggelar turnamen U 14 (kelahiran 2001-2002) dengan sistem permainan 7 lawan 7 (7 a side) setengah lapangan. Dengan turnamen model ini, tak pelak skill dan fisik pemain U 14 akan sangat diuji. Namun, program ini bukan dilaksanakan oleh Pengcab PSSI Jaksel melainkan akan diuji coba di SSB binaannya yakni IPEBI Soccer School (ISS). “Turnamen 7 vs 7 merupakan ajang uji coba, yang tujuannya untuk menggairahkan usia 13-14 tahun giat berlatih lagi,” jelas Aji.

Memang, harus diakui, PSSI Pengcab Jaksel di bawah kepemimpinan Aji Ridwan Mas ini memiliki kepedulian untuk memutar roda kompetisi, sekalipun minim anggaran lantaran tak ada bantuan. Akan tetapi, karena tanggung jawab yang diembannya sebagai Ketua Pengcab PSSI Jakarta Selatan, ia pun berusaha maksimal untuk berbuat sesuatu bagi organisasi yang dipimpinnya itu. ***

Comments

comments