PSSI, Mulailah Kompetisi Usia Dini dari Level Pengcab hingga Asprov

 

Juara 3WARTAPENA.  Kegagalan timnas U 19 di Piala Asia U 19 2014 di Myanmar, sesungguhnya refleksi dari kegagalan PSSI menggelar program pembinaan usia muda. Betapa tidak. Para pemain U 19 itu tidak dibesarkan melalui ajang kompetisi tetapi dibina selama setahun penuh melalui TC jangka panjang. Lantas, jika para pemain timnas U 19 saat itu dikembalikan ke klub masing-masing untuk ikut kompetisi, pertanyaannya kemudian: kompetisi usia muda mana (U 19) yang rutin digelar dan menjadi agenda resmi PSSI? Kalau mereka dicemplungkan ke kompetisi liga ISL, tentu bukan keputusan yang bijak, mengingat usia mereka masih 19 tahun, dan belum waktunya diadu dengan pemain-pemain senior.

Menyadari kegagalan itu, sudah seharusnya PSSI bertindak cepat dan revolusioner. Caranya, PSSI, melalui Asprov PSSI dan Pengcab PSSI di seluruh Indonesia, bertanggung jawab menggelar kompetisi usia dini hingga usia muda (misalnya: U 12, U 14 dan U 16). Sedangkan untuk roda kompetisi U 17, U 19 dan U 21 merupakan tanggung jawab sepenuhnya PSSI.

Yang menarik dibahas di sini adalah gagasan menggelar kompetisi U 12, U 14 dan U 16 yang melibatkan SSB (Sekolah Sepak Bola) di level Aprov PSSI dan Pengcab PSSI. Untuk gampangnya, kita ambil contoh saja: Jakarta. Asprov PSSI DKI Jakarta, yang sampai saat ini melempem, harus mulai bebenah diri, kreatif, dan penuh inovasi untuk menggelar liga U 12, U 14 dan U 16. Akan tetapi, karena Asprov DKI Jakarta tidak memiliki massa yaitu SSB, maka penyelenggara liga itu didelegasikan kepada masing-masing Pengcab PSSI yang ada di lima wilayah ibukota.

Selanjutnya, program kompetisi usia dini dan usia muda level Asprov PSSI DKI Jakarta itu dilakukan dengan cara:

  • · Asprov PSSI DKI mewajibkan anggotanya yaitu Pengcab PSSI di lima wilayah ibukota untuk menggelar liga usia dini U 12, U 14 dan U 16 di bawah agenda resmi Asprov PSSI DKI.
  • · Pengcab PSSI sebagai ujung tombak pembinaan usia muda lalu menggelar liga usia dini di antara SSB dengan sistem kompetisi penuh (bukan festival seperti yang sekarang mewabah). Jadi, ada liga antar SSB di tiap Pengcab Jakpus, Jaksel, Jakbar, Jaktim, dan Jakut.
  • · SSB yang ikut berkompetisi di masing-masing Pengcab PSSI haruslah terdaftar sebagai anggota Pengcab di daerahnya masing-masing, dan mereka wajib mengikuti kompetisi.
  • · SSB yang menjadi juara dan runer up dari masing-masing liga Pengcab PSSI (berarti ada 10 SSB dari lima wilayah Jakarta) kemudian dipertandingkan kembali dengan sistem grup di level Aprov PSSI DKI. Penyelenggaranya adalah Asprov PSSI DKI Jakarta.
  • · Usai kompetisi di Asprov PSSI DKI, dibentuklah tim yang pemainnya adalah pemain-pemain terbaik di SSB masing-masing Pengcab PSSI. Ibaratnya dibentuk timnas Pengcab PSSI, untuk kemudian bertanding di level antarPengcab PSSI (lima Pengcab PSSI wilayah Jakarta). Sehingga, ada kebanggaan bagi pemain yang terpanggil mewakili masing-masing Pengcab PSSI.
  • · Yang juga tak kalah pentingnya adalah, dari awal dibentuk tim pemantau pemain berbakat (talent scouting). Tugasnya memantau seluruh pemain yang berkompetisi baik di level Pengcab maupun Asprov. Dari tim pemandu bakat inilah PSSI akan mempunyai database pemain usia muda. Dan perkembangan para pemain selalu dipantau dari waktu ke waktu.

Pertanyaan klasik yang muncul adalah: dari mana biayanya menggelar liga U12, U 14, U 16 ini? Bagi pengurus yang kreatif dan inovatif tentu tak akan bertanya soal dana. Karena, Asprov PSSI DKI Jakarta bisa minta ke PSSI, menggandeng sponsor, baik swasta maupun CSR BUMN, termasuk donator untuk menyelenggarakan kompetisi masing-masing kategori usia.

Dana dari para sponsor untuk menggelar liga U 12, U 14 dan U 16 itu kemudian diberikan sebagian kepada kelima Pengcab PSSI di Jakarta untuk menyelenggarakan kompetisi level masing-masing Pengcab PSSI, dan sebagiannya lagi untuk Asprov PSSI DKI Jakarta menggelar turnamen level Asprov DKI.

Atau, bisa pula dana yang terkumpul di Asprov PSSI DKI Jakarta diberikan kepada masing-masing Pengcab PSSI di lima wilayah Jakarta dalam bentuk sistem subsidi yang digunakan untuk menyewa lapangan pertandingan. Sedangkan mengenai hadiah pemenang, masing-masing Pengcab PSSI diperbolehkan menerima biaya pendaftaran peserta liga, asal tidak mahal.

Seandainya saja program seperti ini bisa dijalankan serentak di tiap Asprov PSSI dan Pengcab PSSI di seluruh Indonesia, maka dijamin akan lahir talenta-talenta muda pemain sepakbola yang tidak ada putus-putusnya. Dan, yang juga tak kalah pentingnya, PSSI dapat memenuhi syarat pembinaan usia muda dari Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), di mana untuk pemain U-14 minimal harus melakukan 35 pertandingan resmi (kompetisi) setiap tahun untuk mendapatkan hasil maksimal dari pembinaan.

Lalu, kalau muncul alasan: PSSI tidak punya dana untuk membantu Asprov PSSI di seluruh Indonesia menggelar program pembinaan kompetisi usia dini dan usia muda, maka pertanyaan yang mengandung gugatan adalah: kemana saja dan digunakan untuk apa saja uang bantuan dari FIFA yang mencapai sekitar US$ 500 ribu atau Rp 6 milyar itu? (wta)

 

Comments

comments