Senjata Sistem Informasi (1): Garis Depan Revolusi Sosial

TEKNOLOGI INFORMASI berkembang begitu cepat. Teknologi, yang berasal dari kata texere yang artinya membangun, meski semula perkembangannya berjalan lambat, namun setelah ditemukan prinsip dasarnya melalui berbagai penelitian, maka loncatan kemajuannya sangatlah cepat. Penemuan demi penemuan pun selalu disempurnakan manusia. Karena itu, ada benarnya juga jika Einstein mengatakan, “ilmu pengetahuan adalah tidak lebih dari penyempurnaan pemikiran sehari-hari”.

Telegraf

Perjalanan teknologi informasi diawali tahun 1839, ketika Samuel F.B. Morse menciptakan sebuah alat bernama telegraph yang dapat mengirim pesan-pesan berkode melalui kawat listrik – dari sinilah awal dimulainya peradaban baru telekomunikasi di abad 19. Pada tahun 1875, giliran Alexander Graham Bell mempatenkan pesawat telepon yang pertama dan memperoleh hak paten 7 Maret 1876. Namun, yang juga tak kurang jasanya adalah Heinrich Rudolf Hertz (1857-1894) yang menemukan gelombang elektromagnetik pada tahun 1880. Penemuan Hertz ini juga dapat ditandai sebagai titik awal loncatan perkembangan teknologi informasi. Karena dari penemuan Hertz inilah kemudian dikembangkan lagi oleh Guglielmo Marconi pada tahun 1895, dengan menciptakan transmitter yang merupakan prinsip dasar “wireless telegraph”. Karya Marconi ini, sebagai pengembangan gelombang elektromagnetik, menjadikan pesan dapat dikirim dan diterima tanpa kawat. Setelah dikembangkannya sistem Satelit-Telstar, pada tahun 1962, maka percakapan telepon saat ini dapat dilakukan antarbenua bahkan dari ruang angkasa sekalipun.

Apa makna dari kilasan sejarah ini? Bahwa teknologi akan berkembang melaju lebih cepat jika prinsip dasarnya telah ditemukan. Selain itu, akibat perkembangan teknologi informasi inilah mobilitas informasi di dunia, bahkan dari ruang angkasa, menjadi tidak mungkin lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan pada kenyataannya, dampak dari semua loncatan teknologi informasi ini adalah perubahan sosial masyarakat dunia juga berjalan sangat cepat. “Perubahan teknologi menempatkan komunikasi di garis depan revolusi sosial,” begitu ditegaskan William Paisley (1985).

Lantas, apa kecenderungan yang sedang terjadi sekarang ini? Revolusi telekomunikasi, begitu tegas John Naisbitt. Menurutnya, tak ada kata yang paling tepat selain revolusi untuk menggambarkan bagaimana teknologi informasi menyebabkan sebagian peraturan lama menjadi usang. Revolusi yang dimulai dari adanya ledakan informasi (information explosion).

Revolusi telekomunikasi, jelas John Naisbitt, sebenarnya adalah tentang memungkinkannya akses yang lebih luas ke dalam informasi. Revolusi itu akan berjalan seiring dengan waktu. Evolusi dalam teknologi komunikasi menciptakan revolusi dalam pembagian informasi. Salah satu ciri terpenting dari semua ini adalah, apabila semula perusahaan komputer menekankan manfaat dari “orang yang bekerja” dengan komputer, maka dengan revolusi telekomunikasi, manfaat yang didapat menjadi kebalikannya. Telekomunikasi dan prasarananya membuat orang saling berhubungan, dan hal ini akan menimbulkan dampak yang luar biasa pada iklim sosial, politik, ekonomi, di dalam komunitas global. Hal ini memang tak bisa dihindari, karena pada dasarnya manusia memiliki hasrat untuk memperkaya kehidupan dengan membagi informasi guna meningkatkan pengetahuan. Revolusi telekomunikasi pada akhirnya akan membuat perubahan yang dramatis tentang bagaimana cara kita berkomunikasi pada masa mendatang.

Begitu dahsyatnya revolusi telekomunikasi di mata John Naisbitt, hingga dalam bukunya Global Paradox, ia berani menegaskan, “Tanpa prasarana telekomunikasi, ekonomi akan gagal.”

Oleh sebab itu, sistem ekonomi kini tergantung kepada produksi, manajemen, dan pemanfaatan informasi. Pada akhirnya, hanya perusahaan atau organisasi yang mampu mencari dan mendapatkan informasi secara efektif yang akan berhasil. Fenomena ini yang kemudian menyebabkan kita sesungguhnya telah beralih dari masyarakat industrial ke masyarakat informasi.

Tak jauh berbeda pula dengan yang dikatakan futurist Alvin Toffler, bahwa kita sedang hidup di masa peradaban “Gelombang Ketiga” (the third wave), setelah lahir peradaban “Gelombang Pertama” yang disebut revolusi agraris, peradaban “Gelombang Kedua” dengan revolusi industri, dan “Gelombang Ketiga” dengan revolusi teknologi. Dalam konteks media komunikasi, maka alat “Gelombang Pertama” adalah poster-poster dinding; “Gelombang Kedua” berupa surat kabar, radio, televisi; sedangkan “Gelombang Ketiga” mengenal satelit, mesin fax, komputer, kamera tangan TV, mesin fotocopy, dan jaringan komunikasi global.

Peradaban yang sedang terjadi sekarang ini menyebabkan kita hidup dalam “Global Village”, begitu tulis Marshall MacLuhan dalam bukunya Understanding Media – The Extensiom of Man (1965). Global Village atau Desa Dunia ini terbentuk berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, di mana pesan-pesan dapat dikirim dan diterima pada waktu yang bersamaan walaupun jarak antara pengirim dan penerima sangat berjauhan. Arus informasi dalam kehidupan manusia tidak mungkin lagi dibatasi. Oleh sebab itu, MacLuhan pun berani menegaskan, “Barangsiapa menguasai informasi, ia akan menguasai dunia”.

Sedangkan Don Tapscott menyebutnya, kita sedang berada di ambang terbitnya abad Network Intelligence, era yang melahirkan ekonomi baru, politik baru, dan masyarakat baru, yang semuanya berkat teknologi informasi baru.

Dunia memang seolah menjadi satu, sekalipun dimiliki oleh banyak negara. Masyarakat pun seolah menjadi satu, meskipun berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Kecenderungan ini terjadi, karena: “Kita sedang meletakkan fondasi untuk satu sistem jalan raya informasi internasional. Dalam telekomunikasi, kita bergerak ke satu jaringan informasi tunggal seluruh dunia, sama seperti kita secara ekonomi menjadi satu pasar global. Kita bergerak menuju kemampuan untuk mengkomunikasikan apa pun kepada siapa saja, di mana saja, dengan bentuk apa saja, seperti suara, data, teks, atau citra (image) dengan kecepatan cahaya,” begitu tulis John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000.

Sejumlah perubahan teknologi ini mempengaruhi perpaduan komputasi, komunikasi, dan teknologi isi dan industri. Perubahan menghasilkan kekuasaan, kemampuan, dan kinerja harga untuk media baru, organiasi baru, ekonomi baru, dan masyarakat baru. “Anda tidak perlu menjadi pakar teknologi untuk menguasai ekonomi baru, tetapi perlu memahami perubahan yang ada dan memastikan organisasi Anda unggul,” begitu tulis Don Tapscott selanjutnya.

Dengan mengutip apa yang dikatakan Bill Gates, presiden Microsoft Corp, untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi sekarang ini sebagai penciptaan sebuah “tatanan dunia digital yang baru,” dan dalam perkembangannya kelak, John Naisbitt menegaskan bahwa teknologi digital adalah kunci penyelesaian yang berhasil bagi prasarana informasi. Teknologi digital juga merupakan teknologi yang akan menciptakan kembali cara orang hidup, bekerja, dan menghibur diri mereka sendiri. Ini adalah revolusi teknologi yang akan meningkatkan hampir semua teknologi yang sebelumnya dan meningkatkan kehidupan kita. [Wawan Tunggul Alam(bersambung)

Comments

comments