Pemenang LafargeHolcim Awards 2017 untuk Asia Pasifik

Pemenang LafargeHolcim Awards 2017 untuk Asia Pasifik
Membangun dengan berkelanjutan untuk peningkatan kehidupan masyarakat

Wartapena, 8 Desember 2017 – Konstruksi berkelanjutan di Asia Pasifik memiliki makna tersendiri bagi pembangunan untuk masyarakat. Ini jelas terlihat dari berbagai proyek yang memenangkan hadiah di LafargeHolcim Awards untuk Asia Pasifik yang diserahkan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 23 November 2017 lalu. Tiga proyek dari Indonesia membawa pulang masing-masing Silver Award dalam kategori utama, Acknowledgement Award dan Next Generation Award yang berfokus pada peningkatan kualitas edukasi melalui keterlibatan masyarakat dan meningkatkan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

LafargeHolcim Awards mengapresiasi konstruksi lebih dari hanya sekadar bangunan yang indah. LafargeHolcim Awards merupakan kompetisi paling bergengsi di dunia untuk desain berkelanjutan. Kriteria kompetisi berhadiah total USD 2 juta ini sama menantangnya dengan tujuan berkelanjutan itu sendiri. Kompetisi ini mencari proyek di tingkat desain lanjutan, bukan karya akhir. Kompetisi ini memberikan pengakuan terhadap desain yang melampaui standar saat ini, menonjolkan respons berkelanjutan atas berbagai isu teknologi, lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya yang memengaruhi konstruksi kontemporer, dan menawarkan solusi visioner terhadap cara kita membangun.

Mendefinisikan berkelanjutan
Tahap pertama kompetisi LafargeHolcim Awards diadakan di lima wilayah, dan pemenang di masing-masing wilayah akan maju ke tahap global. Kompetisi di wilayah Asia Pasifik secara khusus, mewakili beragam budaya, negara, dan iklim. Ini tercermin pada lebih dari 1.100 proyek yang ikut serta dalam kompetisi ini. Anggota Juri Marc Angélil, Profesor Arsitektur dan Desain di Swiss Federal Institute of Technology (ETH Zurich), mengomentari bagaimana “berbagai target isu” untuk konstruksi berkelanjutan, yang ditetapkan oleh LafargeHolcim Foundation dan universitas afiliasinya, memungkinkan proyek yang beragam tersebut dikompetisikan dan diberikan peringkat. “Berbagai target isu” ini mendefinisikan prinsip keberlanjutan secara holistik, terlepas dari jenis proyek atau skalanya. Marc Angélil juga menggaris bawahi tingginya kualitas proyek-proyek yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini: “Keberlanjutan haruslah komprehensif, sistematis, dan spesifik – Anda benar-benar harus memikirkan sesuatu yang istimewa untuk dapat menonjol!”

Gold Award: Rumah untuk anak-anak termarjinalkan di India
atArchitecture dari Mumbai, India, berencana untuk mengganti rumah singgah yang kurang memadai untuk anak-anak termarjinalkan di Thane, kota di bagian Barat India. Dengan konsep bangunan yang dikembangkan dengan baik dan desain yang ramah anak, proyek ini menerapkan aspek keberlanjutan dalam arsitektur dan sosial. Rumah singgah ini juga menyediakan aktivitas untuk para manula, pelatihan pengembangan kaum wanita, dan ruang balita. Juri memuji dengan memberikan komentar; “Proposal tersebut melampaui definisi berkelanjutan secara sosial karena mempertimbangkan teknologi pembangunan pasif, langkah desain inovatif, dan model ekonomi yang layak”.

Silver Award: Perpustakaan mikro di Indonesia
Promosi dan diseminasi pengetahuan adalah tema yang sering muncul dalam kompetisi LafargeHolcim Awards – dan kali ini kembali dikemukakan dalam proyek SHAU dari Bandung, Indonesia. Proyek paviliun mereka berlokasi di sebuah taman dengan desain minimalis dan teratur dengan baik – tidak hanya menyediakan perpustakaan umum, tetapi juga fasilitas penyimpanan, toilet umum, dan musala. Juri berkomentar; “Proyek ini terbuka semua sisinya ke arah taman yang mengelilinginya, mengundang masyarakat untuk masuk dan menjelajahinya; bangunan ini menjadi titik penting untuk lingkungan sekitarnya dan membantu masyarakat dengan mendorong minat baca”.

Bronze Award: Bangunan universitas mengapung di Bangladesh
WOHA dari Singapura ingin memperkenalkan bangunan dan ruang terbuka di lahan rawa yang telah diolah di Dhaka, Bangladesh. Mereka merancang bangunan universitas yang mengapung di atas kolam – dan desain keseluruhan yang membantu proses pembersihan kolam. Dengan fasad taman vertikal, panel fotovoltaik, dan ventilasi terkontrol, proyek ini bisa menjadi model untuk keberlanjutan di kawasan Asia Pasifik. Juri berkomentar; “Keberlanjutan sangat terintegrasi ke dalam desain bangunan, mulai dari zonasi panas hingga penurunan yang signifikan dalam hal penggunaan energi dan air”.

Acknowledgement Award: Untuk kepentingan masyarakat
LafargeHolcim Awards di tingkat regional, memberikan penghargaan khusus bagi empat proyek di masing-masing wilayah. Keempat proyek tersebut antara lain dari pppooolll architects dari Jakarta, Indonesia, yang berencana untuk mempromosikan pertanian organik di pedesaan pulau Jawa dengan menyediakan pusat pelatihan bagi para petani muda. Lalu ada tim dari Tsinghua University dan Beijing University of Civil Engineering & Architecture di Tiongkok yang mengusulkan strategi untuk memperbaiki sebuah distrik bersejarah di Beijing dengan dukungan penduduk setempat. Tim dari Massachusetts Institute of Technology di Cambridge, MA, AS, telah merancang bangunan multifungsi tahan gempa untuk penyimpanan air dan penggunaan umum yang fleksibel di Thecho, Nepal. Selanjutnya, proyek karya Bangkok Project Studio dari Thailand untuk mengadakansarana penghubung komunitas di Rayong, Thailand, untuk peningkatan kegiatan budaya dan masyarakat di desa tersebut.

Next Generation Award: Masa depan di tangan mereka
Empat hadiah diberikan pada kategori Next Generation yang semakin populer untuk mahasiswa dan profesional hingga usia 30 tahun. Kategori ini mencari proyek visioner dan ide berani, menjadi ajang bagi para profesional muda untuk mendapatkan pengakuan. Proyek pertama yang memenangkan Next Generation Prize di tingkat regional diberikan kepada Mengyuan Zhu dari Tiongkok. Zhu mengembangkan model untuk mengubah dan merevitalisasi desa Guming di dekat Nanjing. Hadiah kedua diberikan kepada Vedhant Maharaj dari Afrika Selatan. Dia merancang infrastruktur pengolahan air yang sensitif secara budaya di Varanasi, India. Andi Subagio dari Indonesia mendapatkan hadiah ketiga dalam kategori ini. Ia merancang sebuah sekolah multifungsi di Ruteng, Indonesia. Hadiah keempat didapatkan oleh Tzu-Jung Huang dari Taiwan. Dia mempelajari hubungan timbal balik antara zona berkembang dan sistem ekologi di Taichung City, Taiwan.

Dari proyek menuju realisasi: Perpustakaan komunitas dan pemulihan sosial
Kompetisi LafargeHolcim Awards telah diselenggarakan sebanyak lima kali. Selama itu, kompetisi ini telah menganugerahkan penghargaan pada lebih dari 200 proyek di seluruh dunia. Lebih dari setengahnya telah dibangun atau dalam tahap penyelesaian. Maka, LafargeHolcim Awards bukanlah kompetisi yang muluk-muluk, tetapi mengedepankan langkah terukur untuk memajukan ilmu tentang konstruksi. Aspek perubahan nyata ini ditegaskan dengan diberikannya penghargaan khusus untuk pertama kalinya pada tahun 2017: LafargeHolcim Builds Better Acknowledgement Award. Penghargaa ini diberikan untuk proyek yang dinyatakan sebagai pemenang dari putaran kompetisi sebelumnya, yang telah direalisasikan dan telah teruji waktu sebagai contoh sukses dari pembangunan berkelanjutan.

Di Asia Pasifik, penghargaan ini diberikan kepada Robust Architecture Workshop di Colombo, Sri Lanka, yang diwakili oleh Milinda Pathiraja. Desain mereka untuk perpustakaan komunitas di Ambepussa, Sri Lanka, dibangun dengan dukungan mantan personil tentara yang terlibat dalam perang saudara negara tersebut. Proyek ini menunjukkan bahwa “mengubah pedang menjadi mata bajak” dapat direalisasikan bahkan sampai hari ini. Proyek ini mendapatkan Bronze Award pada LafargeHolcim Awards regional untuk Asia Pasifik pada tahun 2014 dan Silver Award LafargeHolcim Awards Global pada tahun 2015. Hari ini, perpustakaan tersebut menjadi sumber pengetahuan untuk veteran dan masyarakat setempat. Metode konstruksinya  dipilih secara khusus untuk membantu anggota tentara bertransisi ke kehidupan sipil.

Penghargaan yang mendorong keberlanjutan sebagai dasar pembangunan dalam industri konstruksi
Minat yang semakin meningkat di kalangan arsitek, insinyur, perencana kota, dan pengembang membuktikan bahwa keberlanjutan telah tertanam sebagai “akal sehat” di industri konstruksi. Putaran kelima kompetisi ini menarik lebih dari 5.000 proyek dari peserta di 121 negara. 3.606 proyek dianggap sah, dan lebih dari separuhnya melewati tahap pra penyaringan. Mereka berhasil maju untuk mendapatkan penilaian kualitatif oleh lima juri ahli independen di wilayah kompetisi Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Pasifik. Para juri mengevaluasi proyek berdasarkan lima “target masalah” untuk konstruksi berkelanjutan yang ditetapkan oleh LafargeHolcim Foundation – prinsip-prinsip yang mendefinisikan konstruksi berkelanjutan secara holistik. Pemenang Gold Award, Silver Award, Bronze Award dari masing-masing wilayah akan bersaing untuk Penghargaan LafargeHolcim Awards Global di tahun 2018.

 

Para Pemenang LafargeHolcim Awards 2017 Asia Pasifik

Gold Award 2017 Asia Pasifik
Rumah untuk anak-anak termarjinalkan, Thane, India: Di kota yang padat, proyek ini menampung anak-anak yatim piatu di suatu bangunan dengan bentuk vertikal yang menyenangkan dan ramah anak. Proyek ini merupakan karya Avneesh Tiwari dan Neha Rane, atArchitecture, Mumbai, India.

Silver Award 2017 Asia Pasifik
Pusat pembelajaran, Bandung, Indonesia: Dengan menggunakan konstruksi yang sederhana, “perpustakaan mikro” ini secara aktif mendorong minat baca dan kemasyarakatan di seluruh Indonesia. Proyek ini merupakan karya Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, SHAU, Bandung, Indonesia.

Bronze Award 2017 Asia Pasifik
Kampus universitas BRAC, Dhaka, Bangladesh: Memperbaiki lahan rawa yang tercemar dan membuang gedung universitas baru yang mengapung di atasnya, proyek ini menambah ruang terbuka dan bangunan di kota. Proyek ini merupakan karya Mun Summ Wong, WOHA, Singapura.

Acknowledgment Award 2017 Asia Pasifik
Pusat pelatihan untuk pertanian organik di Parung, Jawa Barat, Indonesia: Pertanian organik dan pusat pelatihan di daerah pinggiran metropolitan Jakarta. Proyek ini merupakan karya Kamil Muhammad dan Brahmastyo Puji, pppooolll, Jakarta, Indonesia.

Acknowledgment Award 2017 Asia Pasifik
Regenerasi urban Baitasi, Beijing, Tiongkok: Regenerasi lingkungan bersejarah menggunakan sarana minimal untuk efek maksimal. Proyek ini merupakan karya Yue Zhang, Liying Wu, Peiming Li, Cong Nie, Mengxing Cao dan Yue Wang, Tsinghua University; dan Shimeng Hao, Beijing University of Civil Engineering & Architecture, semuanya di Beijing, Tiongkok.

Acknowledgment Award 2017 Asia Pasifik
Ruang publik multifungsional, Thecho, Nepal: Fasilitas pengolahan air dan waduk yang dikelilingi oleh infrastruktur sosial. Proyek ini merupakan karya Miho Mazereeuw, David Moses, Aditya Barve, Larisa Ovalles dan Hugh Magee, Massachusetts Institute of Technology, Urban Risk Lab, Cambridge, MA, Amerika Serikat.

Acknowledgment Award 2017 Asia Pasifik
Balai kota Ban Chang, Rayong, Thailand: Paviliun surealis yang mengubah produk limbah lokal menjadi kontribusi jangka panjang bagi masyarakat. Proyek ini merupakan karya Boonserm Premthada, Bangkok Project Studio, Bangkok, Thailand.

Hadiah ke 1 Next Generation Award 2017 Asia Pasifik
Transformasi desa partisipatif, Guming dekat Nanning, Tiongkok: Transformasi pedesaan pinggiran kota dengan tingkat kepadatan tinggi, dan bangunan rendah. Proyek ini merupakan karya Mengyuan Zhu, Southeast University, Nanjing, Tiongkok.

Hadiah ke 2 Next Generation Award 2017 Asia Pasifik
Infrastruktur pengolahan air, Varanasi, India: Penafsiran puitis dari fasilitas pemurnian air yang menyediakan ruang publik di tepian Sungai Gangga. Proyek ini merupakan karya Vedhant Maharaj, Rebel Base Collective, Johannesburg, Afrika Selatan.

Hadiah ke 3 Next Generation Award 2017 Asia Pasifik
Fasilitas pelatihan keterampilan, Ruteng, Indonesia: Sekolah yang lebih dari hanya sekadar fasilitas pendidikan – sebagai titik hubung untuk beberapa aktivitas masyarakat dan pusat pelatihan keterampilan di pulau Flores. Proyek ini merupakan karya Andi Subagio, SASO, Jakarta, Indonesia.

Hadiah ke 4 Next Generation Award 2017 Asia Pasifik
Menjelajahi ekosistem yang tangguh, Taichung, Taiwan: Eksplorasi persediaan dan aliran material dengan berbagai skala sebagai alternatif atas mode predominan pembangunan kota. Proyek ini merupakan karya Tzu-Jung Huang, Feng Chia University, Taichung City, Taiwan.

Foto 1(19)-aPara pemenang LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik dari Indonesia (tengah), berfoto bersama dengan Prof. Gunawan Tjahjono, Guru Besar Arsitektur, Universitas Indonesia (kanan) dan Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager Holcim Indonesia (kiri)

Foto 2a-aPemenang Silver Award kategori Main Category kompetisi LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik, Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, SHAU, Bandung, memberikan pemaparan mengenai proyek mereka kepada rekan-rekan media.

Foto 2b-a Pemenang Bronze Award kategori Next Generation kompetisi LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik, Andi Subagio dan tim, SASO, Jakarta, memberikan pemaparan mengenai proyek mereka kepada rekan-rekan media.

Foto 2c-aPemenang Acknowledgement Award kompetisi LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik, Kamil Muhammad dan Brahmastyo Puji, pppooolll, Jakarta, memberikan pemaparan mengenai proyek mereka kepada rekan-rekan media.

Foto 3a-aPiala Silver Awards kategori Main Category, LafargeHolcim AWards 2017 – Asia Pasifik

Foto 3b-aPiala Bronze Awards kategori Next Generation, LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik

Foto 3c-a Piala Acknowledgement Awards, LafargeHolcim Awards 2017 – Asia Pasifik

 

Comments

comments