Kinerja 9 Bulan yang Solid, Posisi Keuangan Lebih Tangguh Pasca IPO

Wartapena, Jakarta, 29 November 2017 – PT PP Presisi Tbk (“Perseroan”, “PPRE”) mengumumkan hasil kinerja selama 9 Bulan 2017 (9M 2017) yang berakhir 30 September 2017.

Kinerja 9M 2017 Tumbuh Pesat

“Kombinasi dari pekerjaan beberapa proyek infrastruktur nasional, perolehan kontrak baru, serta akuisisi 51% saham di PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) berhasil mendorong pendapatan dan laba bersih Perseroan untuk tumbuh secara signifikan di periode 9M 2017”, ujar Iswanto Amperawan, Direktur Utama PPRE di Jakarta.

Per 9M 2017, PPRE membukukan pendapatan sebesar Rp930 Miliar atau tumbuh sekitar 271% secara year-on-year dibandingkan pencapaian per 9M 2016 sebesar Rp251 Miliar. Kontribusi terbesar pendapatan Perseroan di 9M 2017 berasal dari Civil Work (termasuk Foundation Work) sekitar 61%, disusul oleh Sewa Peralatan Berat sekitar 16%, lalu Ready Mix sekitar 14%, sedangkan sisanya sekitar 9% disumbangkan oleh Form Work. Sebagai catatan, PPRE mulai masuk ke bisnis Civil Work sejak Kuartal II 2016.

Setelah Beban Pokok Penjualan dan Beban Usaha, Laba Usaha Perseroan per 9M 2017 tercatat sebesar Rp211 Miliar, atau tumbuh sekitar 299% dibandingkan pencapaian sebesar Rp53 Miliar per 9M 2016. Pencapaian ini merefleksikan Marjin Laba Usaha Perseroan sebesar 22,8% per 9M 2017 dibandingkan 21,2% per 9M 2016.

Setelah Beban Lain-Lain, Pajak, Kepentingan Non Pengendali, Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk per 9M 2017 adalah sebesar Rp89 Miliar, dibandingkan Rp27 Miliar yang dicapai di 9M 2016 atau tumbuh sebesar 234% secara year-on-year.

EBITDA per 9M 2017 sebesar Rp322 Miliar meningkat signifikan sebesar 246% dari Rp93 Miliar per 9M 2016.

Kontrak 10 Bulan Capai Rp2,9 Triliun

Perseroan beserta entitas anaknya membukukan total perolehan kontrak baru sebesar Rp4,2 Triliun dalam periode Januari-Oktober 2017. Kontrak baru tersebut terdiri dari Perseroan (induk saja) sebesar Rp2,2 Triliun dan dari LMA sebesar Rp2,0 Triliun.

Sementara itu, kontrak carry over yang dimiliki Perseroan adalah sebesar Rp4,9 Triliun, Dengan demikian, Total Order Book sampai dengan Oktober 2017 adalah sebesar Rp9,1 Triliun. PPRE sendiri menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp5,8 Triliun.

Posisi Keuangan yang Lebih Tangguh Pasca IPO

Per 30 September 2017, Perseroan memiliki Total Aset sebesar Rp3,6 Triliun dengan Total Ekuitas sebesar Rp1,3 Triliun. Di periode yang sama, Total Utang Berbunga (Interest-Bearing Debt) mencapai Rp1,4 Triliun dengan Kas sebesar Rp310 Miliar, sehingga Net Gearing ratio berada pada 0,84x.

Pasca IPO, Proforma Total Aset per 30 September 2017 menjadi Rp4,6 Triliun dengan Proforma Total Ekuitas menjadi Rp2,3 Triliun. Proforma Kas menjadi Rp1,3 Triliun sehingga Net Gearing membaik hingga menjadi 0,05x yang memberikan ruang leverage yang jauh lebih besar.

Pada tanggal 24 November 2017, saham Perseroan secara resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten ke-29 sepanjang tahun 2017 dengan kode PPRE. Dengan melepas 23% saham ke publik, Perseroan berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp1 Triliun.

Sebagai tambahan, saham PPRE yang baru saja tercatat di BEI telah ditetapkan sebagai Efek Syariah oleh Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat Keputusan No: KEP 54/D.04/2017.

“Masuknya dana segar ke Perseroan akan memperkuat kapabilitas keuangan, sehingga posisi keuangan Perseroan lebih tangguh untuk menggarap proyek-proyek Infrastruktur berskala besar,” ujar Benny Pidakso, Direktur Keuangan Perseroan.

              Proyek apartemen di SurabayaEKO_2011-a
EKO_2134-a

 

Comments

comments